0819 19000 165
Admin Majlis Pulang
Admin Majlis Pulang

Setiap manusia mengenal kata “pulang”. Bagi seorang perantau, pulang berarti kembali ke kampung halaman, menjumpai senyum hangat orang tua, dan melepaskan lelah dari bisingnya dunia. Bagi seorang pekerja, pulang adalah langkah menuju rumah setelah seharian memeras keringat.
Namun, pernahkah kita merenung: ke mana tujuan akhir dari perjalanan pulang kita yang sejati?
Sering kali kita memperlakukan dunia seolah-olah kita akan tinggal di dalamnya selamanya. Kita membangunnya dengan megah, mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya, hingga lupa bahwa status kita di sini hanyalah seorang musafir.
Rasulullah SAW memberikan cermin yang sangat jernih dalam hadisnya:
“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan engkau seorang asing atau seorang pengembara.”
(HR. Bukhari)
Seorang pengembara yang bijak tidak akan menumpuk barang bawaan hingga memberatkannya di perjalanan. Ia hanya mengambil apa yang cukup untuk membawanya sampai ke tujuan. Rumah sejati kita bukanlah alamat tempat tinggal yang tertera di KTP, melainkan Jannah (Surga) tempat di mana kakek buyut kita, Nabi Adam AS, pertama kali diciptakan.
Sebaik-baik jalan pulang dalam kehidupan ini adalah taubat.
Ketika seseorang melangkah jauh melupakan Allah, tersesat dalam kemaksiatan, dan merasa hampa di tengah riuk-pikuk dunia, hatinya sebenarnya sedang merindukan jalan pulang. Allah SWT tidak pernah menutup pintu bagi hamba-Nya yang ingin kembali, seberapa jauh pun ia telah melangkah pergi.
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'”
(QS. Az-Zumar: 53)
Kerinduan untuk pulang ditandai dengan bersujud, menumpahkan air mata penyesalan, dan memperbaiki diri. Sujud adalah momen di mana seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya—sebuah muara tempat berlabuh bagi jiwa yang lelah.
Setiap perjalanan membutuhkan bekal. Begitu pula perjalanan panjang menuju akhirat. Allah SWT telah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”
(QS. Al-Baqarah: 197)
Bekal kepulangan itu bukanlah harta yang menumpuk di rekening bank, jabatan yang mentereng, atau popularitas di media sosial. Bekal itu adalah:
Shalat yang terjaga dan keikhlasan dalam beribadah.
Sedekah jariah dan kebaikan yang terus mengalir.
Akhlak yang mulia serta hubungan yang baik antar sesama manusia.
Suatu hari nanti, nama kita akan dipanggil. Kepulangan itu bersifat mutlak dan tidak dapat diundur meski sedetik. Pertanyaannya bukanlah apakah kita akan pulang, melainkan bagaimana keadaan kita saat dipanggil pulang?
Mari kita persiapkan kepulangan ini dengan sebaik-baiknya. Kembalilah kepada Allah sebelum kita dikembalikan kepada-Nya.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam quis nostrud exercitation ullamco laboris.
Proin ullamcorper pretium orci. Donec nec scelerisque leo. Nam massa dolor, imperdiet nec consequat a, congue id sem. Maecenas malesuada faucibus finibus. Donec vitae libero porttitor, laoreet sapien a, ultrices leo. Duis dictum vestibulum ante vitae ullamcorper. Phasellus ullamcorper, odio vitae eleifend ultricies, lectus orci congue magna vestibulum ante vitaevitae eleifend ultricies Quisque consectetur convallis ex, quis tincidunt ligula placerat et. Nam quis leo sed tortor.
Proin ullamcorper pretium orci. Donec nec scelerisque leo. Nam massa dolor, imperdiet nec consequat a, congue id sem. Maecenas malesuada faucibus finibus. Donec vitae libero porttitor laoreet sapien aultrices.
Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.